NEXT Indonesia Center: Belanja Negara Ekspansif, Disiplin Fiskal Tetap Terjaga dan Ekonomi Beri Sinyal Positif
Kalanesia.id, Jakarta - Realisasi belanja negara yang meningkat pada triwulan I tahun 2026 dinilai menunjukkan pemerintah terus mengakselerasi pergerakan ekonomi nasional, namun tetap berada dalam koridor disiplin fiskal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyebut perkembangan fiskal pada awal tahun ini memberikan indikasi positif terhadap arah perekonomian nasional. Ia menilai meningkatnya penyerapan belanja pemerintah yang dibarengi dengan pertumbuhan penerimaan negara menjadi sinyal baik untuk menjaga momentum ekonomi ke depan.
“Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan,” ungkap Christiantoko dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Keuangan, realisasi penerimaan negara pada triwulan I-2026 tercatat mencapai Rp574,9 triliun, atau naik 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year). Kinerja penerimaan tersebut ditopang terutama oleh penerimaan pajak yang tumbuh signifikan sebesar 20,7 persen menjadi Rp394,8 triliun.
Christiantoko menilai capaian penerimaan tersebut menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang kebutuhan belanja pemerintah yang meningkat.
"Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat," kata Christiantoko.
Di sisi lain, belanja negara sepanjang Januari hingga Maret 2026 tercatat mencapai Rp815,0 triliun, meningkat 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berada pada angka Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski defisit meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, Christiantoko menilai angka tersebut masih dalam batas wajar dan mencerminkan strategi fiskal yang terukur.
"Jika dicermati secara utuh, angka tersebut justru mencerminkan strategi fiskal yang terukur," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah memang tengah mengakselerasi belanja negara sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, defisit yang terjadi saat ini merupakan bagian dari kebijakan yang berada dalam kendali pemerintah, bukan sesuatu yang muncul tanpa perencanaan.
Ia menambahkan, realisasi belanja negara pada triwulan I telah mencapai 21,2 persen dari target tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata penyerapan belanja pada triwulan I di tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 17 persen. Secara nominal pun, belanja negara meningkat hingga 31,4 persen.
"Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik," papar Christiantoko.
Ia menilai belanja negara untuk sejumlah program strategis juga meningkat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berdampak langsung pada aktivitas ekonomi. Selain itu, peningkatan belanja negara juga dipengaruhi faktor musiman, yakni momentum Lebaran.
Pada Lebaran tahun ini, pemerintah mengeluarkan paket stimulus sebesar Rp15 triliun untuk mendorong konsumsi masyarakat, mulai dari bantuan pangan, diskon transportasi, hingga penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri.
"Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi," ucap Christiantoko.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pemerintah tetap menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga disiplin fiskal. Menurutnya, target defisit APBN yang dijaga di bawah 3 persen dari PDB tetap menjadi jangkar utama agar ekspansi belanja tidak keluar dari batas aman.
"Dengan demikian, defisit sebesar 0,93 persen pada triwulan I-2026 harus dilihat bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan," tutupnya.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0