Soroti Kematian Mangrove di Benoa, KMHDI Bali Ajukan Tiga Tuntutan kepada PT Pelindo
Kalanesia.id, Denpasar - Kasus matinya ratusan pohon mangrove di kawasan Benoa, Denpasar, yang diduga akibat pencemaran logam berat dan tumpahan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, mendapat sorotan dari Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia wilayah Bali.
Organisasi tersebut mendesak PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) untuk bertanggung jawab penuh atas kerusakan lingkungan yang terjadi di area mangrove tersebut.
Melalui pernyataan sikapnya, KMHDI Bali menyampaikan tiga tuntutan utama kepada pihak Pelindo.
Pertama, perusahaan diminta segera melakukan pembersihan menyeluruh pada kawasan mangrove yang hingga kini masih tergenang minyak solar. Kedua, Pelindo diminta melaksanakan tindakan bioremediasi terhadap air laut yang telah tercemar agar kualitasnya dapat kembali seperti semula. Ketiga, dilakukan perawatan dan pengawasan secara intensif terhadap seluruh infrastruktur yang berpotensi menyebabkan kebocoran minyak maupun logam berat ke laut.
Kerusakan lingkungan ini dinilai serius karena mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami kawasan pesisir, termasuk dalam meredam gelombang laut serta menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Ketua KMHDI Bali, Pitriyou, menegaskan bahwa pihaknya meminta persoalan ini diusut hingga tuntas sekaligus diikuti dengan langkah pemulihan lingkungan secara menyeluruh.
“Matinya ratusan mangrove sudah dipastikan oleh adanya zat Hidrokarbon yang menggenangi perairan di sekitaran tanaman Mangrove, secara penyerapan nutrisi terhambat, akar jadi rusak dan jaringan kambium pada tanaman juga terganggu hingga rusak,” papar Ketua PD KMHDI tersebut.
Ia menambahkan bahwa kondisi di lapangan masih menunjukkan adanya genangan cairan BBM jenis solar di sekitar area mangrove, sehingga perlu segera dilakukan penanganan serius agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas.
“Sangat jelas kelalaian dari pihak pengelola khususnya lahan mangrove yang dibawah kawasan PT Pelindo itu, sisa cairan logam berat seperti solar masih menggenang, ini akan menjadi ancaman ke tanaman yang lain,” tegas Pitriyou.
Selain itu, ia menilai upaya penanaman kembali mangrove yang telah dilakukan oleh pihak Pelindo belum cukup apabila kondisi perairan masih tercemar. Menurutnya, pemulihan kualitas lingkungan harus dilakukan secara terukur.
“Meski pihak Pelindo sudah ada tindakan dengan menanam bibit baru tapi air nya masih tidak aman ini sama dengan bohong, harus ada tindakan yang terukur, kadar keamanan air nya harus normal kembali, bisa dilakukan dengan Bioremediasi terhadap kandungan air laut,” pungkasnya.
Sebagai informasi, bioremediasi merupakan metode pengolahan limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri, fungi, alga, atau enzim tertentu untuk membersihkan lingkungan yang tercemar. Teknik ini umum digunakan untuk memulihkan kondisi tanah, air, maupun udara yang terkontaminasi secara lebih aman dan ramah lingkungan.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0