Kemenbud dan JMSI Jajaki Sinergi Penguatan Narasi Budaya dan Pelestarian Aksara Daerah

Mar 4, 2026 - 15:30
 0
Kemenbud dan JMSI Jajaki Sinergi Penguatan Narasi Budaya dan Pelestarian Aksara Daerah
Pengurus JMSI Saat Bertemu Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Selasa (3/3)

Kalanesia.id, Jakarta - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuka ruang kerja sama dengan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) guna memperkuat penyebarluasan narasi kebudayaan serta upaya konservasi aksara daerah. Peluang kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan Pengurus Pusat JMSI dengan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Ruang Mataram, Kementerian Kebudayaan, Selasa (3/3).

Audiensi itu tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga forum dialog untuk merumuskan langkah bersama antara pemerintah dan media dalam mendorong kemajuan kebudayaan nasional. Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, menegaskan bahwa sebagai organisasi yang menjadi konstituen muda di Dewan Pers, JMSI ingin berperan lebih luas dalam isu-isu kebudayaan, terutama pada aspek pelestarian dan perlindungan aksara daerah.

Menanggapi hal tersebut, Fadli Zon menekankan bahwa upaya memajukan kebudayaan bukan semata tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Ia merujuk pada amanat Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa negara memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia.

“Tugas pemajuan kebudayaan nasional ini harus menjadi tugas kita bersama. Dan peran media sangat erat kaitannya dengan amanat konstitusi tersebut,” tegas Fadli Zon.

Ia menilai media memiliki peran penting dalam membentuk, menguatkan, dan menyebarluaskan narasi kebudayaan yang berkesinambungan. Penyebaran informasi terkait situs, tradisi, maupun ekspresi budaya dinilai krusial untuk menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat terhadap kekayaan budaya bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan juga memaparkan berbagai langkah yang tengah ditempuh, termasuk percepatan penetapan dan pelestarian cagar budaya serta Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Dari total WBTB yang telah ditetapkan, sekitar 10–20 persen di antaranya berasal dari sektor kuliner. Selain itu, Indonesia sedang mengajukan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO.

Menurutnya, berbagai program pelestarian tersebut perlu diperkuat dengan strategi komunikasi publik yang efektif agar memiliki dampak luas, baik secara nasional maupun global.

“Yang kita perlukan adalah diseminasi narasi dan informasi. Revitalisasi sudah dilaksanakan, namun tetap perlu narasi untuk menuangkannya sebagai sebuah kampanye. Bukan hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi publik internasional,” ujarnya.

Pada bagian akhir pertemuan, Fadli Zon turut menyoroti pentingnya penguatan cerita rakyat sebagai elemen penting dalam ekosistem kebudayaan. Saat ini, Kementerian Kebudayaan sedang menginventarisasi dan mengumpulkan berbagai cerita rakyat dari daerah untuk kemudian didigitalisasi sebagai bagian dari strategi pelestarian di era teknologi.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik Muhammad Asrian Mirza, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Ibnu Hamad, Direktur Pengembangan Budaya Digital Andi Syamsu Rijal, serta Kepala Balai Media Kebudayaan Abu Chanifah.

Melalui sinergi ini, Kementerian Kebudayaan dan JMSI diharapkan mampu membangun ekosistem narasi budaya yang kokoh, berbasis riset, serta menjangkau khalayak yang lebih luas. Kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan kebudayaan Indonesia tetap terjaga sekaligus memiliki daya saing di tingkat internasional.(na)

Bagaiman Reaksi Kamu?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0