Program Gentengisasi Prabowo Bangkitkan Asa Pengrajin Genteng di Priangan Timur
Kalanesia.id, Tasikmalaya - Inisiatif Presiden RI Prabowo Subianto melalui Program Gentengisasi membawa angin segar bagi para pengrajin genteng tradisional di berbagai daerah. Di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat—meliputi Banjar, Ciamis, Garut, Pangandaran, hingga Kabupaten dan Kota Tasikmalaya—program ini disambut penuh harapan oleh pelaku usaha kecil yang selama ini terpinggirkan.
Salah satunya Nurdin, pengrajin genteng tanah liat asal Kampung Ablok, Kelurahan Sinar Galih, Kecamatan Langensari, Kabupaten Banjar. Ia mengaku kembali termotivasi setelah mendengar rencana pelaksanaan program tersebut.
Menurut Nurdin, sudah cukup lama dirinya menghentikan produksi genteng karena minimnya permintaan pasar. Padahal, usaha itu menjadi tumpuan hidup keluarganya selama bertahun-tahun.
Ia mengenang masa keemasan produksi genteng sekitar tahun 2015. Setelah itu, pesanan terus menurun hingga akhirnya ia beralih membuat bata tanah demi menyambung hidup.
Kini, harapan besar kembali tumbuh seiring hadirnya program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo. Ia bahkan menyebut program ini layaknya anugerah bagi pengrajin kecil.
“(Semoga) Pak Presiden Prabowo mau memperhatikan pengrajin kecil yang sudah hampir punah ini. Di Langen (Kecamatan Langensari) tinggal satu-satunya saya (pengrajin) yang masih bertahan,” kata Nurdin, saat Sarasehan Ekonomi Kerakyatan bertema Dari Tanah Menjadi Atap: Industri Genteng Tradisional Perkuat Kemandirian Ekonomi di Tasikmalaya, dikutip Kamis (12/2).
Nurdin bersama puluhan pengrajin genteng di Banjar mengungkapkan bahwa perhatian pemerintah terhadap sektor ini nyaris tak mereka rasakan selama bertahun-tahun. Karena itu, langkah Prabowo dinilai sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada pelaku usaha rakyat.
Akademisi Program Pascasarjana Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Edy Suroso, menilai Gentengisasi sebagai program strategis yang lahir dari visi kerakyatan.
Ia menyebut, Prabowo mampu melihat potensi besar dari industri rakyat untuk menggerakkan ekonomi bawah. Menurutnya, Gentengisasi memiliki karakter padat karya, berbasis sumber daya lokal, serta relatif tangguh menghadapi krisis.
"Belum lagi industri genteng yang dikerjakan rakyat memiliki serapan tenaga kerja, memutar ekonomi lokal dan identitas dari kearifan lokal,” ujar Edy.
Senada, Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Kota Tasikmalaya, Agus Rudianto, menekankan pentingnya penguatan koperasi agar program tersebut benar-benar dirasakan pengrajin kecil.
Ia menilai, tanpa tata kelola koperasi yang kuat, industri rakyat berisiko kalah bersaing dengan korporasi besar.
“Agar pengrajin genteng tanah tradisional bisa mendapat manfaat dari program Gentengisasi, maka koperasi yang menaungi pengrajin harus dikonsolidasikan. Rancang standardisasi produksi dan perlindungan regulasi,” kata Agus.
Selain penguatan kelembagaan, ia juga mendorong kemudahan akses permodalan serta pelatihan digitalisasi bagi pengrajin, sehingga pemasaran produk dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagaiman Reaksi Kamu?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0